Surya Sengkala

Surya Sengkala
Munggahing Godhong Sumoroting Pandulu (2010)

Sugeng Rawuh

Sabtu, 20 November 2010

Panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.


 

Panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.



Panjang

Dalam suluk pedalangan diterangkan : panjang dawa pocapane berarti mempunyai sejarah yang lama. Suatu bangsa yang akar historisnya dapat ditelusuri akan menambah kepercayaan diri yang kuat. Dengan membandingkan peristiwa lalu dan peristiwa yang sedang berlangsung akan mudah mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang memiliki nilai kesamaan. Kegagalan dan keberhasilan masa lalu akan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Sebab-sebab kegagalan dan keberhasilan itu ada yang karena kesengajaan dan ada yang karena kebetulan. Faktor kesengajaan perlu dikelola dengan sebaik-baiknya.

Punjung

Arti kata punjung adalah luhur kewibawaannya. Kewibawaan suatu negara diperoleh dari pengakuan rakyat dalam negeri dan pengakuan kedaulatan dari negara-negara lain. Rakyat yang sejahtera lahir batin dan negara tetangga yang mendapatkan hutang budi merupakan modal pokok suatu negara untuk tampil terkemuka mendapat pengakuan dan kewibawaan. Lain halnya dengan suatu negara yang dirundung gejolak politik, kerusuhan, kemiskinan dan kesengsaraan warganya, tentu saja rakyat akan melakukan upaya-upaya penggulingan kekuasaan dan negara lain sulit mengakui kewibawaannya. Boleh jadi malah menjadi cibiran bangsa manca. Negara seperti itu tidak bisa dibanggakan lagi. Oleh karena itu sedapat-dapatnya masing-masing warga mau aktif dan kompetitif dalam membangun kemakmuran negara. Pemimpin negara juga dituntut memiliki visi yang cerdas, tidak korup dan memiliki supremasi hukum.

Pasir

Dalam bahasa pedalangan pasir dimaknai samudra. Pencipta kata pasir ini tentu berdasarkan realita bahwa Nusantara memiliki wilayah yang sebagian besar adalah samudra raya. Harus diakui bahwa samudra atau lautan merupakan sumber kekayaan alam yang berlimpah ruah. Di sana terdapat sumber daya laut yang sangat besar dan merupakan jalur perdagangan, pelayaran dan pelabuhan. Bahan tambang juga banyak terdapat di dalam laut. Produksi garam besar-besaran hanya bisa dilakukan di sekitar laut. Demikian pula keanekaragaman hayati, tumbuh-tumbuhan laut dan ikan-ikan tentu bisa mendatangkan kemakmuran. Oleh karena itu penting untuk masyarakat dan negara menguasai teknologi dan ilmu kelautan. Konsep pasir perlu mendapat pemaknaan lebih luas agar bisa mendatangkan keuntungan lebih banyak.

Wukir

Dalam pewayangan dikenal adanya dasa nama atau kumpulam istilah. Dasa nama dari wukir adalah gunung, arga, redi dan prawata. Adanya pegunungan menambah kesuburan tanah. Hutan belantaranya memuat kekayaan hewani dan nabati. Kayu-kayuan yang sangat mahal harganya terdapat di hutan. Sebagai contoh kayu Jati di Pegunungan Kendheng di Jawa dan rotan di hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan yang terbuka, adil, dan teratur tentu membuka lebar-lebar kesempatan pemakmuran rakyat. Hanya saja yang perlu dihindari adalah monopoli pengelolaan hutan yang berbuntut kesenjangan dan persengketaan yang tidak menguntungkan. Wukir juga bermakna pegunungan yang indah. Negara atau wilayah yang memiliki deretan pegunungan tentu akan menyajikan penorama indah dan udara sejuk yang membuat betah dan nyaman orang tinggal di sana. Apalagi dalam jaman modern di mana pariwisata sangat digemari, maka tentu keindahan panorama pegunungan akan menambah devisa negara dan kemakmuran rakyat, sebagai contoh Pegunungan Bromo di Jawa Timur.

Gemah

Kata gemah dalam jagat pakeliran berkaitan dengan kesibukan orang berniaga. Perdagangan merupakan kegiatan perekonomian yang sangat penting. Suatu negara yang lancar dan aman proses perdagangannya, pertanda di situ ekonomi berjalan dengan baik dan dinamis. Pertukaran barang membuat kehidupan menjadi bergairah dan hal ini erat hubungannya dengan semangat kerja. Etos kerja dapat dirangsang dengan imbalan yang memadai. Dunia perdagangan yang gemah menjanjikan hal itu. Siang malam orang berjualan dan berniaga di pasar tidak lelah dan tidak mengantuk. Dalam benak mereka adalah penghasilan yang bisa menghidupi dan menyejahterakan sanak keluarga. Hujan panas tidak merongrong usahanya untuk maju dan berkembang. Oleh karena itu wilayah kewajiban negara yang sangat vital adalah mewujudkan keamanan perdagangan.

Ripah

Kata ripah diterangkan Ki Dalang dengan pengertian mengacu kepada keramaian suatu negara. Karena negara memiliki daya pikat, maka banyak orang manca berkunjung dan berbondong-bondong untuk mencari penghidupan atau sekedar berdarmawisata ke situ. Di mana saja yang banyak dituju orang biasanya di situ banyak rezeki. Hal ini sebagaimana pepatah: ada gula ada semut. Namun untuk mengelola gula diperlukan ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kebijaksanaan yang memadai. Kesejahteraan merupakan hal yang membuat orang tergerak untuk meraihnya. Beruntunglah wilayah atau negara yang dapat mewujudkannya.

Loh

Kata loh berarti kesuburan. Tanah yang subur dan dapat menumbuhkan segala tanaman dengan baik disebut tanah yang loh. Di wilayah nusantara tanahnya sangat subur. Palawija, palagandul, pala kependem di mana-mana subur menghijau dan menentramkan mata memandang. Ketentraman ini berbuah kenyamanan untuk setiap orang tidak akan bersaing secara tidak sehat. Kekerasan dan kecemburuan dapat dihindari. Sebagai wilayah agraris, maka menjadikan wilayah Nusantara sebagai negara agraris maju, sejahtera dan disegani perlu diusahakan. Tanah tumpah darah yang sudah loh perlu manajemen oleh pemimpin negara secara profesional agar membuahkan kemakmuran yang sesungguhnya.

Jinawi

Kata jinawi dalam jagat pakeliran berarti apa yang dibeli harganya serba murah. Kebutuhan hidup sehari-hari dapat dijangkau oleh masyarakat secara mudah. Kesenjangan daya beli antara si punya dan si tidak punya tidak terlampau lebar. Kecemburuan sosial yang berkaitan dengan daya beli membuat orang yang merasa tidak mampu akan berbuat nekad agar dirinya dapat mengejar ketertinggalan. Orang mau menjambret, mencopet, maling, merampok dan merompak karena dengan jalan lumrah dirinya tidak bisa memperjuangkannya. Negara yang memperoleh predikat jinawi, rakyatnya akan ramah dan murah senyum. Tegur sapa sesama bukan barang mahal dan lebih penting lagi masyarakat akan mulai memikirkan cara memaknai hidup entah dengan berkesenian atau mengembangkan pemikiran ilmiah religius.

Tata

Kata berjenjang tata-titi, tatas-titis, tatag-tutug berkaitan dengan komitmen suatu komunitas dalam ketaatan hukum dan norma yang telah disepakati bersama. Konvensi dan aturan main bersama harus dilaksanakan sebaik-baiknya agar keserasian dan keselarasan tetap terjaga. Pelanggaran terhadap tata tertib akan menunda keberhasilan. Di samping diri sendiri rugi, orang lain pun akan terkena dampaknya. Apabila pelanggaran itu dilakukan oleh orang banyak dan hal itu dianggab biasa berarti masyarakat itu telah menabung masalah. Suatu saat masalah itu akan membengkak dan berbuah pada penderitaan. Banyak contoh bahwa masyarakat yang menjunjung ketertiban akan unggul, produktif dan kompetitif. Dan banyak contoh pula masyarakat yang tak mengindahkan normanya sendiri akan jalan di tempat bahkan jumud 'mundur'.

Tentrem

Kata tentrem berarti tentram, aman, tenang, damai dan dapat membahagiakan lahir maupun batin. Kata tentrem lebih menunjuk pada aspek kejiwaan. Untuk mencapai suasana tentrem, maka antar unsur masyarakat harus menghormati hak dan kewajiban orang lain, terbuka, toleran, tenggang rasa, tepa selira, tahu diri, mawas diri, introspeksi, kompromis dan humanis. Di sini pengendalian diri terhadap pergaulan sangat diperlukan. Masyarakat yang tentram akan membuat hidup kerasan dan betah. Dalam suasana tentram, tidak akan pernah orang merasa dihina dan diremehkan, apalagi merasa terancam harta dan jiwanya.

Karta

Kata karta diterangkan oleh Ki Dalang berkaitan dengan kemakmuran dan aktivitas kerja. Hal ini menunjukkan suatu masyarakat yang gemar berkarya, produktif dan sibuk kegiatan akan menjadi makmur. Petani sibuk dengan bercocok tanam. Pedagang rajin berjualan, peternak tekun menggembala. Kesempatan bekerja yang luas akan mengurangi angka pelanggaran yang menjurus pada kriminalitas. Masing-masing individu mempunyai kesempatan untuk menyumbangkan diri. Kehormatan sosial akan membuat orang memiliki arti dalam hidupnya. Orang yang bekerja pasti timbulharga dirinya. Status sosialnya diakui oleh lingkungan. Oleh karena itu meledaknya pengangguran perlu dihindari.

Raharja

Raharja berarti jauh dari kejahatan. Semua orang patuh pada hukum. Pencuri dan pencopet, maling dan kecu tidak mendapat tempat. Harta dan kekayaan, ternak dan hasil pertanian aman ditaruh di mana saja, tidak ada kejahilan dan kejahatan yang mengganggu. Mereka yang kecukupan membantu yang kurang kecukupan. Hal ini menjadikan yang kekurangan kerjanya menjadi lebih giat untuk mengejar ketinggalan. Antara kekayaan dan kemiskinan terjadi saling pengertian. Mereka tahu posisi dan kedudukannya sehingga hubungan harmonis terpelihara. Penonjolan kemewahan oleh yang kaya tidak terjadi dan meminta-minta oleh yang melarat tidak terlihat.

http://wijayakusumacilacap.blogspot.com/2010/11/panjang-punjung-pasir-wukir-gemah-ripah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar